Dea Valencia, Pengusaha 'Batik Kultur' dengan Omset Ratusan Juta



Bukan rahasia umum lagi jika salah satu produk kebanggaan bangsa Indonesia adalah batik. Begitu juga yang dirasakan Dea Valencia yang begitu cinta terhadap batik.


Dea Valencia, Pasarkan Batik Kultur Hingga Go Internasional


Dulu mungkin kamu merasa sangat kuno dan ketinggalan zaman dengan memakai batik. Berbeda dengan zaman sekarang hampir semua orang merasa senang memakainya baik orang tua maupun anak muda. Pasalnya batik sekarang dikemas lebih modern. 


Hal ini juga yang dilakukan pengusaha asal Semarang dengan menciptakan pakaian dari bahan batik yang modern dan menjualnya hingga ke Internasional. Nah, pengen tahu lebih jauh bagaimana kisah Dea bisa menjual batik kultur? Yuk simak ulasan lengkapnya!


Awal Mula Berdirinya Batik Kultur


Awalnya ide berjualan batik ini muncul  karena Dea Valencia ingin membantu ibunya menjual batik lawas. Karena penjualannya lumayan sepi akhirnya Ia berpikir bagaimana bisa menciptakan baju batik namun modern dan berkualitas. 


Akhirnya Ia memutuskan untuk menjahit baju batik dengan desain yang modern ke tetangga nya. Dan Ia merancang desainnya sendiri Ia sangat menyukai hasil jahitan tersebut dan memakainya. Ia hanya akan menjual barang yang Ia sukai untuk dikenakan setiap hari.


Memulai usaha dari nol dengan merancang produknya sendiri meski dengan bantuan desainer karena Dea tidak begitu bisa menggambar, akhirnya usaha yang dirintisnya mulai berkembang. Dan kini mampu memasarkannya hingga ke Internasional.


Ciptakan Batik Kultur yang Modern dan Berkualitas


Kelebihan batik kultur ketimbang batik lainnya adalah termasuk pakaian dengan model yang modern yang bisa digunakan untuk berbagai aktivitas. Sebab batik kultur menciptakan berbagai model pakaian batik baik untuk keseharian maupun untuk acara formal.


Selain itu, kelebihan dari batik kultur adalah batik yang berkualitas hasil karya tangan sendiri dan non printing. Dengan mengutamakan kualitas dan desain modern, batik kultur sangat diminati terutama dari kalangan anak muda.


Batik kultur ini merupakan batik tulis yang dikerjakan secara tradisional sehingga kualitasnya sudah sangat terjamin. Selain itu, Dea juga sangat paham sekali seluk beluk pembuatan batik baik secara langsung maupun lewat baca buku.


Berdayakan Disabilitas 


Dan salah satu keistimewaan dari batik kultur adalah dengan mempekerjakan karyawan yang disabilitas. Jadi sebagian pegawainya adalah penyandang disabilitas. Dea ingin memberdayakan para disabilitas yang mungkin berbeda tetapi mereka juga memiliki potensi yang bagus juga. Jadi dari semua pegawainya ada sekitar 20 persen penyandang disabilitas. 


Manfaatkan Sosial Media untuk Tingkatkan Penjualan 


Dea juga melakukan pemasaran dengan memanfaat sosial media. Misalnya saja Instagram, Facebook, dan lainnya. Dan awalnya Dea sendirilah yang menjadi model produknya. 


Dengan memanfaatkan sosial media, Dea bisa menjual produk batik kultur hingga seribu pakaian per bulannya. Dan omsetnya pun sangat tinggi hingga ratusan juta rupiah.


Harga yang dibanderol produk kultur batik pun cukup bervariasi mulai dari harga 150 ribu sampai 1 jutaan tergantung kualitas pakaian. Jadi semua kalangan bisa membelinya baik dari kalangan menengah atas maupun kalangan menengah ke bawah.


Meskipun usaha Dea Valencia untuk menjalankan bisnisnya terlihat sangat lancar. Namun, disisi lain ternyata ada banyak kendala. Salah satunya adalah masalah nama merk brand awal yang ternyata ada yang sama. Sehingga pada akhirnya diciptakan bran baru dengan nama batik kultur.


Note : Tulisan ini adalah portofolio saya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kejahatan Komputer di Indonesia dan Upaya Pencegahannya

Belajar Digital Marketing untuk Pemula!

Biografi Singkat 💌