Penjelasan dari dokter jiwa yang ngaku pacarnya Lia
Lia itu dijodohkan sama dokter semenjak lia masih kecil. Tahun 2017 dikasih tau kalau lia udah punya pacar tapi adiknya gak mau ngurusin. Dokter itu kasihan sama adiknya tapi udah gak mau sama lia yang udah tua juga udah kerja. Maunya yang lebih muda. Soalnya udah lulus kuliah kedokteran. Tapi, akhirnya tetap bantu adiknya diurusin masalah administrasi. Soalnya masih keluarga dari bapaknya. Tapi tetap nolak lia. Soalnya lia bukan kedokteran. Sukanya yang sama-sama kedokteran. Awalnya mau ambil spesialis penyakit dalam akhirnya ambil spesialis jiwa 2016 di Jakarta waktu Lia di Jakarta. Tapi tahun 2017 belum bekerja jadi dokter. Akhirnya ambil S2 di Jepang soalnya mau belain pacarnya yang gampang depresi. Dikiranya depresi karena apa? ternyata karena sering dijodoh-jodohkan. Soalnya kata teman kuliahnya waktu kuliah anaknya ceria meskipun agak melankolis. Dokter itu salah ternyata adiknya zudi gak paham spikologi mbaknya. Ternyata yang depresi itu adiknya zudi dan ibunya. Ternyata lia masih psikologi, udah dewasa soalnya anak pertama dan punya adik tiga, ternyata Lia itu normal. Yang gak normal itu zudi sama ibunya, soalnya zudi dan ibunya itu jepang. Ternyata yang normal itu lia bagi kedokteran. Ibunya, zudi, arrum, terlalu merendah psikologinya kayak psikologi orang jepang petani. Tika orangnya matre tapi seleranya rendah. Bapaknya itu psikologi cina. Seharusnya yang S2 di jepang itu zudi bukan dokter itu. Seharusnya dokter itu S2 di london sama Lia. Soalnya Lia informatika. Dokter itu seharusnya udah menikah sama Lia semenjak awal 2017. Tapi ambil S2 Kedokteran Jiwa London. Soalnya sama-sama tentara. Seharusnya zudi anak laki-laki bisa kuliah mandiri gak merepotkan mbaknya. Masalah ekonomi, zudi bantu orang tuanya. Lia bebas menikah soalnya Lia anak pertama kuliah di UIN pun dianggap murah. Seharusnya adik-adiknya mandiri gak bergantung ke Lia. Seharusnya adiknya zudi gak sombong soalnya adiknya zudi kuliah beasiswa. Seharusnya bisa S2 linier mandiri.
Kampus-kampus negeri gak suka zudi yang masih punya background SMP swasta. Zudi rata-rata cuma bisa diterima dikampus Jawa Timur. Seharusnya kuliah nikah sama dokter itu tahun 2018 nikah di Surabaya. Sebelum S2 di Jepang soalnya udah nangung biaya keluarga. Juga spesialis jiwa jepang itu spesialis jiwa Cinta. Seharusnya yang diomongin bukan petaninya tapi jurusannya mbak lia dan kerjaannya mbak lia. Seharusnya lia bisa kerja di Jepang meski cuma S1. Soalnya syaratnya S2 disana harus punya istri. Dokter itu pilih Lia soalnya dikiranya Lia itu punya kelainan jiwa dari kecil ternyata Lia itu depresi karena Lia itu dibully soalnya Lia itu Jawa Jakarta dan normal. Seharusnya dokter itu ambil spesialis penyakit dalam tapi langsung jadi dokter. Dokter itu Surabaya Lia Jakarta. Bapakmu cina normal tapi melankolis, ibukmu jepang depresian, zudi jepang depresian, arum blasteran cina jepang kalau salah diam kalau benar cerewet kayak ibukmu. Tika cina tapi seleranya rendah. Seharusnya Lia normal soalnya Lia Jawa (Jogja) Jakarta. Dokter itu jawa Surabaya masih ada darah Madura gak kayak Lia. Seharusnya yang berobat itu ibukmu, adikmu tika, adikmu arrum, dan adikmu zudi soalnya jepang depresian. Soalnya lia masih paham psikologi. Dokter itu gak paham psikologi tapi paham penyakit dalam. Yang salah tetap orang gempolpading selalu ngangep lia gak normal. Lia normal. Lia tetap orang Malang soalnya pendiam. Lia di Malang betah. Soalnya orang Malang rata-rata pendiam-pendiam. Jakarta itu kayak malang pendiam-pendiam. Lia melankolis soalnya Lia Jawa Jakarta. Pantes sering dikira anak Jakarta. Dokter itu Surabaya masih Madura meskipun bapaknya Jakarta. Seharusnya gak sama Lia seharusnya sama dokter tapi ambil spesialis penyakit dalam. Seharusnya Lia sama-sama anak Jakarta soalnya sama-sama pendiam. Bagi dokter jiwa Lia itu normal. Cuma lia melankolis karena sering dibully sama dokter itu dijadikan pasien tapi lebih karena masalah bullying. Biasanya ini sering dialami dokter perempuan juga mahasiswa psikologi. Ini biasanya karena korban fitnah. Penyakit ini sering dialami oleh dokter perempuan dan psikolog perempuan karena bullying. Tapi Lia Informatika seharusnya ditanggani dokter jiwa tentara. Soalnya informatika itu kayak tentara anaknya tomboy-tomboy juga paham psikologi dan kedokteran. Seharusnya Lia nikah sama Kedokteran Jiwa Tentara London. Soalnya kalau sama-sama anak informatika sama-sama melankolis dua-duanya gampang dibully soalnya dua-duanya sama-sama Jakarta. Informatika itu rata-rata Jakarta. Kedokteran itu rata-rata Surabaya. Lia lebih dominan Jakarta pantes Lia pendiam selalu dikira anaknya orang kaya. Seharusnya Lia gak usah minum obat soalnya Lia Jakarta dan Informatika juga anak pertama banyak dokter-dokter Surabaya salah paham. Dokter-dokter Surabaya gak betah di Lamongan soalnya rata-rata cerewet tapi miskin-miskin. Tapi Lia terlalu pendiam dan melankolis. Seharusnya Lia di Malang. Bukan di Surabaya bukan di Jakarta.
Seharusnya Lia jadi orang Malang. Tika orang Surabaya, Zudi orang Lamongan, Arrum orang Jogja. Dokter-dokter Surabaya aja ngerasa dibully semua soalnya dikiranya orang Lamongan itu jujur-jujur semua. Ternyata banyak yang bohong. Lia jujur tapi terlalu melankolis dikiranya Lia itu Surabaya ternyata Lia itu Jakarta. Seharusnya Lia S2 di ITS meskipun akhirnya jadi orang Malang. Soalnya Lia lebih cocok jadi orang Malang ketimbang orang Jakarta, Surabaya, atau Lamongan. Suka Lia orang Malang yang pendiam. Di jakarta bisa tapi seharusnya udah punya suami. Kalau di Surabaya terlalu pendiam. Di Lamongan sering dianggap lugu dan kadang sombong. Tapi dokter-dokter rata-rata suka anak Surabaya yang juga sama-sama kedokteran soalnya rata-rata cerewet, jujur, baik, pintar, dan cantik. Lia masih Jakarta pantes melankolis dan kelihatan dewasa. Tinggal di desa dokter-dokter masih ngerasa di bully. Dokter jiwa itu aja masih melankolis soalnya masih Jakarta kalau tinggal di desa. Tetap maunya sama-sama asli orang Surabaya. Soalnya bapaknya asli Surabaya Jakarta Ibunya juga asli Surabaya meski keturunan Madura. Bukan orang sini yang terlalu percaya diri semua. Soalnya rata-rata dokter-dokter itu sederhana. Dokter-dokter itu lebih kayak guru. Dokter-dokter gak suka perempuan yang terlalu pendiam tapi gak Jakarta soalnya takutnya anaknya itu manja-manja kayak ibunya. Suka perempuan dokter yang gak manja. Ibunya aja masih Jakarta meski Surabaya Madura. Orangnya gak suka orang sini yang masih pakai ilmu sihir soalnya sihir itu bahaya. Yang penting suruh jaga sholat. Soalnya kok banyak perceraian. Sekarang dokter jiwa itu belajar psikologi. Tetap ngerasa gak cocok sama orang sini. Soalnya masih Jakarta. Cocoknya yang asli Surabaya bukan Gresik juga dokter. Gak suka yang terlalu pendiam tapi bukan Jakarta. Gak suka yang masih bullying. Kasihan rata-rata korbannya orang Jakarta sama Surabaya. Pakai cara sihir rata-rata hidupnya gak bahagia. Gak kayak orang jepang yang kekeluargaan juga damai. Dokter itu tetap gak terima soalnya Lia belum nikah umurnya Lia juga udah tua udah 36 tahun. Maunya bantu Lia nikah dulu baru nikah. Soalnya orang sini masih bohong. Bohong itu paling dibenci sama kedokteran. Kedokteran juga benci sama orang jahat. Seharusnya Lia nikah dulu baru yang lain nikah. Tetap ini bullying. Tetap rata-rata ngerasa gak bahagia. Soalnya masih ada yang sedih dan menderita. Padahal yang sakit Lia udah 6 tahun kok gak dibantu. Itu sekolah dan kuliah susah, kerja juga susah, seharusnya nikah duluan. Tetap gak adil. Tetap rata-rata mau dibatalkan. Kasihan Lia masih kecil seharusnya ini tugasnya dokter jiwa bukan Lia. Ini juga seharusnya di Surabaya bukan di desanya Lia. Gak suka orang sini yang gak menghargai orang berpendidikan. Takutnya banyak orang Jakarta yang meninggal. Soalnya rata-rata orang Jakarta melankolis. Ternyata masih keturunan Madura. Tapi madura kasar. Gak kayak dokter itu Madura pamengkasan. Pantes orangnya kasar-kasar. Amalia Eka bukan madura tapi asli Jawa orang Malang. Pendiam-pendiam tapi orangnya gak manja. Ternyata yang bully Lia itu orang Madura yang salah tetap dokter itu. Kasian Lia yang masih keperangkap orang Madura. Madura itu masih keluargnya ibumu. Yang bullying itu keluarganya ibumu. Keluarga bapakmu itu cina desa rata-rata orannya terlalu merendahkan orang pintar yang judes. Padahal judes itu karena informatika. Pantes Lia dibully terus. Keluarga bapakmu juga dibully soalnya rata-rata ngehina Lia. Suruh di rumah jaga sholat, banyak dzikir, orang madura itu kasihan sama orang miskin tapi gak suka sama orang sombong. Sebenarnya orangnya baik tapi dikiranya Lia itu cuma SMA. Juga dikira S1 tapi gak pernah kerja tapi pendiam dan agamis. Dulu Lia itu disukain soalnya agamis juga tau UIN Malang mau dijodohin temannya anak UB juga informatika ini kepala desa temanmu yang mau jodohin. Tapi gak boleh bapakmu soalnya bapakmu kayak mif orangnya itu rendah hati atau minder soalnya lia kerja tapi cuma penulis lepas waktu itu, dikiranya bapakmu dulu Lia itu masih muda dikiranya Lia sekarang umurnya 32 dulu itu masih 27 soalnya bapakmu takut lia masih belum dewasa soalnya Lia itu sering dikira Alda. Soalnya Alda masih lebih muda jauh. Yang salah tetap keluarganya bapakmu udah dijelaskan ternyata orangnya itu gak suka orang masjid yang terlalu memaksakan Lia sama orang wanar. Soalnya apa bagi orang masjid yang salah itu adikmu zudi yang terlalu belain guru-gurunya MI buat jodohin Lia sama orang wanar. Ternyata adikmu masih SMP swasta, gak suka adikmu yang terlalu belain orang Muhammadiyah di desamu. Kok gak tanya ke mbak Lia langsung. Dikira anak SMA itu gak keluargamu dikiranya Lia itu Matre, ternyata sering salah paham ternyata yang matre itu tika. Yang anak pertama itu Lia 36 tahun belum pernah menikah yang di rumah. Tika 34 tahun di bawean jadi PNS suami PNS. Zudi 27 tahun udah 27 tahun. Arrum 24 tahun anak terakhir. Di rumah sakit Lia selalu dikira udah punya anak satu bagi perawat-perawatnya soalnya ibukmu itu punya penyakit depresi jepang. Soalnya bajumu ditaruh di tas bayi ponakanmu. Barang-barang bawaanmu ibumu itu kayak barang bawaan ibumu ke sawah. Ituloh dokternya mau asal Lia. Tapi gak boleh bapak ibukmu. Soalnya bapak ibukmu ngiranya Lia suka meizir. Terus dikasih tau suka dokter soalnya dokternya itu suka Lia, meizir gak suka Lia soalnya Lia gak kerja. Bapakmu langsung yang dikasih tau ternyata bapakmu minder gak boleh sama dokter, juga udah dikasih tau umurnya udah 36 butuh dokter biar sembuh udah dikasih tau perawat-perawat soalnya kasihan. Tapi gak boleh bapakmu, bapakmu kayak zudi minder sama dokter. Dokter itu kasihan soalnya Lia gak bisa kerja juga butuh biaya pengobatan, tapi ditangani langsung sama dokternya biar Lia itu sembuh. Soalnya katanya bapak-ibunya gak bisa ngerawat Lia, soalnya bapak ibunya gak paham medis kejiwaan. Ibunya Lia terlalu manja agak bodoh, bapaknya terlalu kaku dan kolot. Kasihan Lia, seharusnya Lia dicarikan jodoh padahal rizal udah mau bapakmu udah setuju tapi gak boleh sama perawat-perawat. Soalnya Rizal miskin Lia juga miskin. Seharnya Lia sama dokter, dokter itu udah mau tapi gak boleh sama dokter jiwamu, banyak yang mau dihalang-halangi sama dokter jiwamu soalnya cemburu. Orangnya mau tanggungjawab tapi ternyata bapakmu gak setuju. Dari dulu bapakmu Lia gak setuju sama dokter maunya Lia sama IT sama IT. Gak kayak kepala desamu gak kayak pak zudi setuju asal Lia sembuh soalnya sering kasihan. Pak zudi gak suka adikmu zudi yang malas sholat. Bu yus aja setuju meskipun gak suka sifatnya mbak lia yang agak judes kayak keluarganya bapakmu juga setuju meski agak judes. Gak kayak kak Mat Rukun dikiranya wawan orang NU bukan wawan keluarganya. Bapakmu tetap gak boleh sama keluarganya sendiri dikira yang bantu biaya di rumah sakiit itu keluarga bapakmu ternyata yang bantu biaya di rumah sakit anak kedokteran yang ketemu Lia, sama zudi di kampus UNAIR itu disuruh Ridwan. Soalnya Ridwan masih keluarganya ibumu yang di Surabaya. Pesannya sekarang suruh jaga sholat aja. Ibukmu suka dokter, bapakmu suka IT. Tapi sama dokter gak boleh bapakmu, sama IT gak boleh ibukmu. Yang salah orang tuamu. Seharusnya SMK, terus kuliah kedokteran biar disetujui bapak ibukmu. Yang salah orang tuamu. Soalnya ibukmu gak suka meizir, juga gak suka guru. Ibukmu sukanya PNS meskipun SMA tapi masih muda. Bapakmu sukanya IT tapi dikiranya Lia masih 32 dulu masih 26 tahun. Soalnya bagi bapakmu rata-rata suka perempuan yang tua kayak bapakmu. Umurmu 36 aja bapakmu gak sedih tapi dikira dilindungi. Tapi bapakmu tetap gak suka zudi yang bawa-bawa mbaknya ke kampus. Soalnya bapakmu setujunya Lia sama IT bukan dokter. Ibumu setujunya sama dokter. Tapi umurmu 36 bapakmu agak sedih, soalnya dikiranya bapakmu Lia masih muda. Bapakmu nyesel padahal udah diterima bapakmu sama dokter. Tapi kepengaruh adikmu zudi suruh sama mas meizir tapi bapakmu gak setuju. Guru bapakmu gak setuju, suka IT suka Rizal. Tapi ternyata Rizal banyak yang gak setuju. Bapak itu setuju Lia sama IT soalnya bapakmu orang miskin. Tapi gak boleh dokter-dokter dikiranya bapakmu kaya. Tapi bapakmu bilang miskin soalnya bagi bapakmu rata-rata dokter-dokter gak suka orang miskin. IT gitu masih kasihan sama orang miskin. Bapakmu IT setuju tapi ibukmu, gak setuju takut kayak bapakmu. Setujunya sama dokter. Tapi Lia dihina jelek sama dokter jiwamu, soalnya zaman sekarang dokter-dokter itu suka perempuan yang pakaiannya tertutup atau pakai hijab. Lia masih disukai soalnya masih pakai hijab sama dokter-dokter jurusanmu IT juga disukain soalnya tomboy. Dokter-dokter sekarang suka perempuan pakai hijab yang tomboy suka Lia yang masih pakai celana kalau di rumah kadang pakai gamis. Gak suka yang hijabnya lebar, soalnya biasanya kalau di rumah pakainya terlalu terbuka. Suka Lia yang kadang pakai gamis, juga kadang pakai celana. Kalau pakai celana di RSUD kayak dokter, kalau pakai gamis kayak anak taat agama. Padahal awalnya dikira udah tua. Kalau di rumah sakit swasta kalau pakai gamis kayak dokter kalau pakai celana kayak pegawai bank. Tetap diusahakan dicarikan jodoh, tapi tetap suruh jaga sholat soalnya anaknya taat atau agamis, sholat di rumah gak apa-apa. Jangan kepengaruh sihir, soalnya Lia jaga sholat dari kecil. Ternyata yang bermasalah bapak ibukmu juga adik-adikmu yang terlalu ikut campur juga keluarga, guru, dosen dan tetanggamu. Padahal yang diketemuin Lia udah cocok sama Lia semua. Rumah sakit udah gak mau bantu Lia soalnya bapak ibuk mu masih nolak jodoh padahal udah tau kalau anaknya udah tua udah 36 tahun. Tetap yang salah bapak ibukmu soalnya Lia anak perempuan. Adik-adikmu juga salah padahal di rumah sakit banyak yang kasihan. Seharusnya yang minum obat itu ibukmu, yang dididik biar setuju sama dokter atau IT itu ibukmu. Soalnya Lia pintar, cantik, dan baik. Adik-adikmu cuek soalnya adik-adikmu gak empati soalnya selama ini hidupnya adikmu itu terlalu manja. Yang tau penderitaanmu cuma temanmu kuliah tapi gak suka ibumu yang sombong. Kasihan Lia. Dari dulu ditentang orang tua padahal niatnya baik.
Ada yang mau komentar?
Komentar
Posting Komentar