Skill 4 Bersaudara

Kenapa gak ada jiwa berdagang dan bertani gak kayak adik-adikku.

Bertani

Cuma bisa "matun" ambil rumput sama metik-metik ambil jagung atau metik kacang hijau sama nanam padi sisanya gak bisa mau nangis panas.
Ke sawah pagi jam 7 sampai jam 9. Terus udah kepanasan. Sekarang udah gak mau ke sawah. (Ini waktu ngisi waktu luang sebelum kerja dan les SSC sebelum kuliah) Berhenti setahun karena sempat ditentang kuliah di luar kota dan sempat  ditentang kerja di pabrik sama bapak.

Berdagang

Waktu kecil jualan kartu kisper (hantu putih yang gak pakai baju) depan rumah. Disuruh ibukku jualan kacang panjang nitip di toko kelontong. Jualan bros kulakan waktu kuliah, jualan jam tangan dan kerudung ambil di teman meski gak  diseriusin.

Habis lulus jualan hijab ada yang pesan, Habis itu, udah gak diseriusin. Kadang jualan cilok ke anak yang les di adikku. Aku khusus ngelesi anak kelas enam Matematika satu pertemuan Rp. 2000.

Kenapa gak ada jiwa bertani atau berdagang kayak orang tuaku? 

Padahal orangtua petani tulen dan pedagang cilok udah hampir 33 tahun. Waktu muda bapak  belajar  dagang di Surabaya. Bapak dan ibu pintar bertani. Bisa menyekolahkan anak 4 jadi sarjana.

Biasanya, jadi penulis lepas. Gaji buat biaya hidupku di rumah.

Gak kayak adik-adikku yang pintar bertani dan berdagang.

Pas pandemi mereka jualan di stand bazar buat ngabuburit atas inisiatif mereka sendiri. 

Adik lelakiku bagian menejer, adik perempuan yang kedua kasir, adik yang keempat pangang pentol dan sosis. Aku sama ibukku bagian buat pentol daging. Tapi yang buat bahannya adik-adikku. Sempat ditentang bapakku. Tapi akhirnya jualan cuma setengah bulan. Gak papa buat belajar bisnis.

Soalnya waktu kuliah adikku laki-laki pernah ikut jualan di stand bazar di Mall Surabaya pas liburan kuliah apa ini kegiatan organisasi tapi digaji. Adikku perempuan yang kedua pernah jadi kasir. Adikku yang keempat pernah bantu jualan ustadznya. Aku di rumah sering bantu buat cilok. Tapi bahan olahannya adik-adikku yang buat, belanja ke pasar bareng-bareng.

Labanya dikasihkan ibu buat belanja bulanan Ramadhan dan makan-makan atau jajan adik-adikku. Sisa jaga-jaga uang bulanan buat zakat. (Aku pernah di malang kalau buka di masjid, terus uang buat buka ditabung buat zakat di rumah)

Empat bersaudara dengan skill dan pengalamannya masing-masing.

1. Aku kebanyakan kerja di belakang layar buat cilok, pengelola data di IT Konsultan, dan penulis lepas
2. Adikku kedua perempuan pernah jadi kasir dan guru ektra, guru honorer dan sekarang guru SD PNS depan layar
3. Adikku ketiga laki-laki manajer, pintar bertani dan berdagang dan lobby orang, Pegawai Swasta.
4. Adikku keempat perempuan mondok SMA dan Kuliah. Ngajar ngaji anak TK dan MI di pondok. Dan ngajar extra bahasa di MI.

Mental Kita Tentang Sosial 

1. Aku, ada uang ada barang, ngerasa bayar kuliah mahal, akhirnya kalau kerja yang dipikirkan uang. Zakatnya ke masjid, korban bencana alam, dll jarang ke individu. Yang utamakan kebutuhan keluarga dulu. Soalnya anak pertama.

2. Adikku perempuan, kuliah sambil jadi kasir dan guru. Sama muridnya yang membutuhkan baik. Sama yang kaya juga baik. Gak pilih kasih. 

3. Adikku laki-laki, dermawan tapi kadang pelit. Suka ngasih duit ke orang atau keluarga. Tapi buat dirinya malah hemat.

4. Adikku keempat, kadang boros kadang hemat. Jarang jajan mending belikan barang buat dirinya atau keluarga. Suka nolong orang. 













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kejahatan Komputer di Indonesia dan Upaya Pencegahannya

Belajar Digital Marketing untuk Pemula!

12 Kebiasaan Sederhana Sehari-hari Versiku